Archive for November, 2009

MEMBAHAGIAKAN DIRI SENDIRI

Di dunia ini, tidak akan ada yang memberimu kebahagiaan kecuali dirimu sendiri. Caranya, dengan menciptakan standar kepuasan diri (self satisfaction) yang fleksibel, realistis dan alamiah. Sejarawan Will Durant sebagaimana dikutip Reader’s Digest memaparkan bagaimana ia mengarungi hidupnya demi menemukan kebahagiaan.

Ia pernah mencoba melalui pengetahuan, namun hanya memperoleh kekecewaan. Ia kemudian mencoba mencari kebahagiaan dengan berkelana, namun hanya kelelahan saja yang ia peroleh. Ia mencarinya melalui kekayaan, namun hanya kecemasan dan kegelisahan yang ia dapatkan. Ia mencoba meraih kebahagiaan dengan menulis, namun hanya membuatnya letih.

Hingga suatu hari ia melihat seorang wanita yang duduk di sebuah mobil mungil dengan seorang anak kecil yang tertidur dalam dekapannya. Seorang pria turun dari kereta, mendatanginya, kemudian mencium wanita itu dan bayinya dengan lembut. Begitu lembut sehingga bayi itu tak terbangun. Keluarga itupun pergi dan meninggalkan Durant yang berdiri terkesima.

Ia disadarkan oleh kenyataan alami dan sederhana tentang kebahagiaan. Ia pun menjadi tenang dan menyadari, betapa setiap kegiatan yang biasa-biasa saja, termasuk hari-hari yang telah dilaluinya mengandung kebahagiaan. Juga bahwa standar kepuasan dapat disesuaikan dengan situasi alamiah yang terjadi.

Sesungguhnya kebahagiaan hidup telah bersemayam pada diri kita, selama kita tidak mengusiknya dengan kekecewaan yang kita buat sendiri dengan melakukan sesuatu di luar nurani dan kekuasaan kita. Atau menuntut orang lain memenuhi harapan kita yang berada di luar batas kemampuan mereka. Para bijak berujar, JIKA ENGKAU INGIN TERPUASKAN, MAKA BERHARAPLAH PADA ORANG LAIN APA YANG MEREKA DAPAT LAKUKAN.

Dan salah satu unsur kebahagiaan, menurut Imam Ghazali adalah bersikap “Qanaah”, Qanaah merupakan sikap puas yang moderat. Ia berada di antara sikap Tama’ yang selalu ingin memperoleh kepuasan maksimal, dengan sikap minimalis yang sama sekali tidak memiliki standar kepuasan.

Comments (1) »

(Chicken Soup for the Parent’s Soul)

Aku Baik-baik Saja

(Chicken Soup for the Parent’s Soul)

“Menjadi IBU adalah pengalaman paling penuh emosi dalam hidup seseorang. Seorang ibu menjadi anggota semacam mafia wanita.”

(Janet Suzman)

Rumah berantakan, piring-piring kotor. Aku terlalu tua untuk ini, umurku tiga puluh lebih ! Mobil tidak bersih, rambutku kusut. Dan aku sudah membelanjakan uang belanja minggu depan.

Pakaian kotor harus dicuci, anak-anak terlalu jorok. Dan aku tak pernah punya waktu santai untuk berandai-andai. Untuk semua pekerjaanku, waktuku tidak pernah cukup. Pekerjaan tak pernah selesai, selalu ada yang belum beres.

Aku mengaca dan apa yang kulihat ? Seorang wanita asing bertampang kusut, dimanakah diriku yang dulu cantik ? Semakin bergegas aku, semakin ketinggalan aku.

Hari ini adalah esok, dan aku belum bisa mengejarnya.

Anak-anakku cepat menjadi besar. Aku merindukan masa kanak-kanak mereka yang hilang demi adu cepat itu. Aku bekerja dan membersihkan rumah dan memasak, dan aku berkata, “Belajar dan bersihkan kamar kalian !” Tak ada waktu untuk bermain.

Yah, entah mengapa, Tuhan memilih AKU untuk mengasuh tiga anak-anak ini ? Aku hanya seorang manusia dan seorang ibu rumah tangga, tapi kenyataannya aku ini juga seorang sopir, koki, tukang kebun, guru, wasit dari pertengkaran anakku dan perawat yang pandai menyembuhkan luka.

Kadang-kadang, aku lupa bahwa jauh di dalam dirku. Ada seorang wanita dengan bermacam-macam perasaan, dan tadi dalam wanita itu menangis. Dia lelah, kesepian dan merasa tidak dihargai. Dia ingin melihat bunga mekar dari biji yang ditanamnya.

Kemudian di tengah kekacauan dalam kecepatan yang membingungkan. Anak-anakku memandangku dan tempat ketika aku membutuhkannya, mereka berkata, “Ibu, aku sayang ibu.” Dan saat itu ………Aku merasa baik-baik saja !

Dua acungan jempol bagi Ibu Rumah Tangga yang Profesional (fulltime mother).

 

Aku Baik-baik Saja

Comments (2) »

Memanaskan Hati Iblis

Di hadapan sejumlah sahabat, pada suatu Rasulullah Muhammad SAW bertanya kepada iblis, “Jika engkau bisa menjawab dengan jujur, coba ceritakan kepadaku, siapa yang paling engkau benci ?”

Iblis menjawab dengan jujur, “Engkau, wahai Muhammad, adalah orang yang paling aku benci dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu”.

“Lalu, siapa lagi yang paling kau benci ?” tanya Rasulullah SAW.

“Seorang pemuda yang bertakwa, yang mencurahkan dirinya hanya kepada Allah SWT,” jawab Iblis. “Lalu, orang alim yang wara’ (menjaga diri dari syubhat) lagi sabar. Lalu, orang yang senantiasa menjaga kesucian dari tiga kotoran (hadats besar, kecil dan najis).”

“Siapa lagi ?” tanya Rasulullah SAW.

“Orang fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan kefakirannya kepada siapapun dan juga tidak pernah mengeluhkan penderitaan yang dialaminya,” jawab Iblis.

“Dari mana engkau tahu kalau ia bersabar ?”

“Wahai Muhammad, bila ia masih dan pernah mengeluhkan penderitaanya kepada makhluk yang sama dengannya selama tiga hari, maka Allah SWT tidak akan mencatat perbuatannya dalam kelompok orang-orang yang bersabar,” jawab Iblis.

“Siapa lagi yang kau benci ?”

“Orang kaya yang bersyukur.”

“Lalu apa yang bisa memberitahumu bahwa dia bersyukur ?”

“Bila saya melihatnya mengambil kekayaan dari apa saja yang dihalalkan dan kemudian disalurkan pada tempatnya.”

“Bagaimana kondisimu apabila ummatku menjalankan shalat ?” tanya Rasulullah SAW.

“Wahai Muhammad, saya langsung gelisah dan gemetar,” jawab iblis. “Sesungguhnya apabila seorang hamba bersujud kepada Allah SWT, maka Allah akan mengangkatnya satu derajat (tingkat). Apabila mereka berpuasa, maka saya terikat sampai mereka berbuka kembali. Apabila mereka menunaikan manasik haji, maka saya jadi gila. Apabila mereka membaca Al Qur’an maka saya akan meleleh (mencair) seperti timah yang dipanaskan dengan api. Apabila mereka bersedekah maka seakan-akan orang yang bersedekah tersebut mengambil kapak lalu membelah saya menjadi dua.”

“Mengapa ?”

“Sebab dengan sedekah itu, Allah SWT akan menurunkan keberkahan dalam hartanya, menjadikan dia disenangi di kalangan makhluk-Nya, dengan sedekah itu pula Allah SWT akan menjadikan suatu penghalang antara neraka dengannya dan akan menghindarkan segala bencana dan penyakit.”

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menjadikan umatku bahagia dan mencelakakanmu sampai pada waktu yang ditentukan,” tutur Rasulullah SAW.

Tidak mungkin ! Di mana ummatku bisa bahagia sementara saya senantiasa hidup dn tidak mati sampai pada waktu yang telah ditentukan. Lalu bagaimana engkau bisa bahagia terhadap ummatmu, sementara saya bisa masuk kepada mereka melalui aliran darah dan daging, sedangkan mereka tidak melihatku. Demi Tuhan yang telah menciptakanku dan telah menunda kematianku sampai pada hari mereka dibangkitkan kembali (Kiamat), sungguh saya akan menyesatkan mereka seluruhnya, baik yang bodoh maupun yang alim, yang awam maupun yang bisa membaca Al-Qur’an, yang nakal maupun yang rajin beribadah, kecuali hamba-hamba Allah SWT yang mukhlis (murni)” jawab Iblis.

Kemudian Rasulullah SAW meneruskan pertanyaannya, “Wahai makhluk yang terkutuk, siapa teman dudukmu ?”

“Orang-orang yang suka makan riba,” jawab iblis lagi.

“Siapa teman dekatmu ?” tanya Rasulullah SAW

“Orang yang berzina”

“Siapa teman tidurmu ?”

“Orang yang mabuk.”

“Siapa tamumu ?”

“Pencuri.”

“Siapa utusanmu ?”

“Tukang sihir.”

“Apa yang menyenangkan pandangan matamu,” tanya Rasulullah SAW

“Orang yang bersumpah dengan talak,” jawab iblis.

“Siapa kekasihmu ?”

“Orang yang meninggalkan shalat Jum’at.”

“Apa yang membuat hatimu panas ?”

“(Bila manusia) banyak beristighfar kepada Allah, di malam maupun siang hari.”

“Apa yang membuatmu merasa malu dan hina ?”

“Sedekah secara rahasia.”

“Apa yang menjadikan matamu buta ?”

“Shalat di waktu sahur.”

“Apa yang dapat mengendalikan kepalamu ?”

“Memperbanyak shalat berjamaah.”

“Siapa yang paling membahagiakanmu ?”

“Orang yang sengaja meninggalkan shalat.”

“Siapa yang paling celaka menurut engkau ?” tanya Rasulullah SAW

“Orang-orang yang kikir.”

Lalu, kata iblis lagi, “Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

“Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari setan ketika bersetubuh dengan istrinya, maka setan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku.”

“Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya.”

“Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar mandi. Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku. Saya memohon agar saya punya Al-Qur’an, maka syair adalah Al-Qur’anku. Saya memohon agar saya punya adzan, maka terompet adalah panggilan adzanku. Saya memohon kepada-Nya agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang yang masuk adalah tempat tidurku….”

Rasulullah SAW berkata kepada iblis, “Andaikan tidak setiap apa yang engkau ucapkan itu didukung oleh ayat-ayat dari Kitab Allah tentu aku tidak akan membenarkanmu.”

 

(Petikan dari Syajaratul-Kaun, doktrin tentang pribadi Muhammad SAW)

Comments (3) »